Sabtu, 09 Oktober 2010

Buruh Tani Kopra Masih Termarjinalkan...


Print E-mail

Selasa, 27 April 2010 | 03:58 WIB
Oleh Ferry Santoso dan Jean Rizal Layuck
Kepulan asap dari tempat pembakaran kelapa terus berembus ke muka Yopie (26), buruh tani kopra di Kampung Kendal Dua, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Saat menunggu itu, berulang kali dahi Yopie berkerut dan mata pun mengecil terkena asap.
Buruh tani kopra menjadi mata pencarian sebagian masyarakat Kepulauan Sangihe. Selain kopra, masyarakat di kabupaten yang berbatasan dengan Filipina itu juga menggantungkan penghidupan dari sektor perkebunan, seperti pala dan sayur- sayuran.
Sayangnya, kekayaan perkebunan kelapa sebagai bahan baku kopra belum sepenuhnya memberikan tingkat kesejahteraan yang layak bagi petani, khususnya buruh tani. Pada masa panen, setiap tiga sampai empat bulan, buruh tani kopra hanya mendapat penghasilan dengan sistem bagi hasil. Itu artinya, penghasilan dibagi rata antara pemilik lahan dan buruh tani, masing-masing mendapatkan jatah 50 persen.
Akan tetapi, penghasilan bagi buruh tani sebesar 50 persen itu harus dibagi lagi kepada buruh-buruh tani yang bekerja. Dengan pembagian itu, seorang buruh tani dipastikan mendapat bagian yang lebih kecil.
”Saat panen, setiap tiga bulan, saya hanya mendapat bagi hasil Rp 500.000,” kata Yopie. Penghasilan sebesar Rp 500.000 itu jelas tidak mencukupi. Oleh karena itu, ia juga menjadi buruh tani untuk tanaman lain, seperti pala.
Penghasilan Rp 500.000 saat panen kopra juga diperoleh buruh tani kopra, Ajeria (22). Dari pekerjaan menebang kelapa bersama suaminya serta mengumpulkan dan mengangkut kelapa pada waktu panen, Ajeria mendapatkan upah Rp 500.000.
Pendapatan Rp 500.000 tentu masih jauh dari ukuran kebutuhan hidup layak dengan tanggungan satu anak. ”Kalau kurang, saya biasanya mengutang di warung,” kata Ajeria. Ajeria mengaku, dirinya sering kali berutang beras dan gula.
Namun, harga beras Rp 8.000 per kg itu jauh lebih mahal dibandingkan harga kopra yang hanya sebesar Rp 3.000 per kg. Padahal, untuk mendapatkan kopra sebanyak 1 kg, dibutuhkan setidaknya empat sampai lima kelapa. Itu artinya, untuk mendapatkan upah Rp 3.000, buruh tani harus memetik lima kelapa, lalu mengumpulkan, memanaskan atau membakarnya, dan memotongnya menjadi kepingan kecil-kecil.
Kerja keras
Melihat jerih payah dan kerja keras yang dilakukan buruh tani kopra, tentu saja pendapatan buruh tani kopra kurang sebanding. Apalagi harga kopra sering kali naik turun.
Seorang buruh tani kopra lainnya dari Kampung Kendal Dua, Salaman (67), mengungkapkan, harga kopra yang fluktuatif itu sering kali membuat petani menderita.
”Bayangkan saja, harga 1 kg beras lebih mahal daripada harga 1 kg kopra. Harga 1 kg beras bisa Rp 9.000, sementara 1 kg kopra hanya Rp 3.000,” kata Salaman yang terus asyik mengayun-ayunkan parang untuk memotong kopra. Bahkan, menurut Salaman, pada 2009, harga kopra sempat anjlok menjadi Rp 800 per kg.
Dengan harga kopra yang rendah, biaya kebutuhan hidup sulit terpenuhi. Jika sakit, orang-orang seperti Salaman tidak mampu berobat ke dokter, apalagi ke rumah sakit. ”Kalau sakit, saya terpaksa menggunakan obat-obat tradisional,” kata Salaman. Ia mengaku, suatu waktu pernah sakit dan harus dioperasi di rumah sakit. ”Sampai sekarang, biaya rumah sakit belum saya bayar. Biayanya mencapai Rp 7 juta,” katanya.
Warga miskin
Padahal, di wilayah kabupaten itu, sebagian masyarakatnya menekuni pekerjaan di ladang kopra. Di Kelurahan Kolonga Beha, Kecamatan Tahuna Barat, misalnya, menurut Kepala Seksi Pemerintah Kelurahan Kolonga Beha Christina Makagansa, jumlah penduduk di kelurahan itu sebanyak 781 jiwa.
Sebagian besar penduduk di kelurahan itu bermata pencarian sebagai buruh tani atau petani penggarap, yaitu 50 persen. Sisanya terdiri dari buruh, nelayan, dan pegawai negeri sipil. Jumlah penduduk miskin di Kelurahan Kolonga Beha sebanyak 32 orang pada 2009. Pada 2008, jumlahnya 54 orang.
Bupati Kepulauan Sangihe Winsulangi Salindeho mengatakan, penduduk miskin di wilayahnya pada 2009 mencapai 13.800 orang. Namun, pada 2010, jumlahnya berkurang menjadi 12.000 jiwa.
Winsulangi menjelaskan, pemicu kemiskinan di Kabupaten Kepulauan Sangihe adalah lapangan kerja yang terbatas. Selain itu, pekerjaan sebagai buruh tani, khususnya kopra, juga sering kali dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas itu. ”Kalau harga turun, pendapatan petani pun jatuh,” katanya.
Jika harga kopra sebagai komoditas unggulan tinggi, setidaknya pendapatan petani meningkat dan kesejahteraan pun lebih terjamin. Namun, harga komoditas yang rendah sering kali memang menjadi pemicu rendahnya pendapatan dan kemiskinan buruh tani.
Harga kopra yang sering kali rendah tidak mudah ditelusuri. Harga rendah itu sering kali disebut-sebut akibat gejolak harga di pasar internasional. Akan tetapi, harga rendah itu sebenarnya juga dipicu oleh mata rantai pedagang perantara yang terlalu panjang.
Mantan Sekretaris Panitia Pembentukan Kabupaten Minahasa Selatan Berty Setlight mengakui, sejak lama kopra dari petani dari berbagai desa dan wilayah di Minahasa, termasuk daerah lain di Sulut, dibeli pedagang pengumpul yang lalu menjual ke perusahaan besar.
Saat ini, perusahaan besar yang menyerap kopra petani di beberapa wilayah di Sulut, termasuk Provinsi Gorontalo, adalah PT Cargill Indonesia (CI). Di Minahasa Selatan, selain membeli kopra dari petani, PT CI juga mengolah kopra menjadi minyak kopra (crude coconut oil).
Menurut Hery A Pangalila dari Human Resources PT CI, kapasitas pabrik pengolahan kopra PT CI di Minahasa Selatan mencapai 500 ton per hari. Utilisasi rata-rata per hari 300 ton. Dengan asumsi utilisasi per hari 300 ton, PT CI mampu menyerap kopra petani sebanyak 9.000 ton per bulan. Dengan asumsi harga kopra Rp 3.000 per kg, nilai pembelian kopra dari petani mencapai Rp 27 miliar per bulan.
Namun, sektor perkebunan belum dapat memberikan penghasilan yang menjanjikan bagi buruh tani. Petani kopra masih membayangkan harga kopra yang pernah menembus angka Rp 8.000 per kg pada 1996....
   
http://www.rotanindonesia.org/index.php?option=com_content&view=article&id=691:buruh-tani-kopra-masih-termarjinalkan&catid=55:berita-masy-adat&Itemid=66

Tidak ada komentar:

Posting Komentar