Akhirnya, dengan keinginan dan kebetulan yang memang sudah terencana dari “Sana” saya menjadi bagian dari mereka. Meski tidak ‘terjun’ langsung sebagai ‘pekerja keras’ yang nyaris hampir tiap hari kena ‘bentakan, omelan, dan (maaf) sedikit pelecehan dari beberapa supervisor yang usil, saya mengenal dekat beberapa dari mereka. Kadang di saat pekerjaan tak membutuhkan banyak pikiran, sering saya turun, dan bergabung dengan mereka. Berbicara tentang banyak hal. Mengeluhkan hal yang nyaris sama dari waktu ke waktu.
Mereka itu luar biasa sekali. Di usia yang belasan sampai awal duapuluhan tenaga mereka seperti layaknya mesin yang selalu harus siap pakai. Belum lagi, secara ‘mental’ mereka harus kuat. Kuat dalam artian rela dibentak-bentak, meninggalkan sedikit ‘harga diri’, meninggalkan sedikit rasa sentimental akan masalah keluarganya dan sejuta ‘keakuan’ yang harus rela sedikit disingkirkan demi pekerjaan.
Di sela-sela waktu istirahat yang tak lebih dari 45 menit, biasa mereka gunakan untuk tidur-tiduran (dan tidur beneran) di kolong meja setelah berdiri terus menerus setengah harian, atau malah duduk dan menghadapi mesin jahit terus menerus. Ataupun, sebagian dari mereka ada yang langsung lari ke kantin yang tidak terlalu bersih di belakang pabrik, atau ke depan pabrik, di mana warung-warung berderet menunggu pembeli. Itulah saat yang dinanti, karena mereka bebas bercanda dan bergosip dengan teman-temannya.
Kadang, asyik juga bergabung dengan mereka. Selain karena masalah yang kami hadapi berbeda, tentu ini mendatangkan keasyikan tersendiri, menggali cerita-cerita dari mereka yang tak (lebih) menarik dibanding dengan kebosanan yang sering kali hadir. Mereka, para pekerja wanita seringkali juga terlibat asmara dengan para pekerja lelaki. Malah, suatu kali kabarnya ada yang kepergok sedang ML di tengah shift malam! Wah, yang ini memang bukan berita baru, hanya saja saya tak pernah mengetahui langsung.
Seringkali line telpon di bagian mereka jadi sarana kencan. Tak jarang pula mereka bertemu jodoh di pabrik. Yang seringkali menyedihkan, banyak diantara para pekerja wanita yang hamil, kemudian diberhentikan atau diputus kontraknya dengan alasan kalau orang hamil biasanya banyak malasnya, banyak nggak beres kalau kerja dan sederet keluhan lain tentang wanita hamil. Sama sekali melanggar HAM kalau begini, apalagi peraturan itu di ‘terbit’ kan oleh seorang supervisor perempuan yang juga pernah hamil dan mempunyai anak! Salah seorang rekan saya harus merelakan bayi yang baru saja dilahirkan karena kondisinya tak memungkinkan dan lambatnya penanganan. Bisa jadi ini berhubungan dengan kondisinya yang terus menerus terforsir kala hamil tua. Bayangkan saja, hamil tua, mengurus sekian macam permasalahan dalam garment, mengatur beberapa rencana sampai jauh tengah malam, naik turun tangga tiada henti dalam sehari dan esoknya, dia harus bekerja lagi! Pagi-pagi pula. Itu masih belum ditambah sekian macam omelan dari orang yang berbeda.
Tapi jangan ditanya kemana uang mereka pergi setelah gajian. Beragam tas, baju, aksesoris dan hanphone terbaru hadir sebagai ‘grooming’. Apalagi bagi mereka yang masih single. Tak jarang saya pangling bila bertemu dengan mereka di pusat perbelanjaan atau ketika mereka menyempatkan diri berkunjung kerumah. Tampilan mereka, lebih ‘blink’ dan jauh dari kesan kaum marginal yang banyak digambarkan.
Dari tingkat ‘stres’ mereka, yang berprofesi sebagai supervisor lebih tinggi. Karena, selain mereka jadi sasaran kemarahan ‘para atasan’, mereka juga harus menyusun sederet rencana produksi, siap-siap diomelin kala satu dari bawahannya membuat kesalahan. Pernah suatu kali saya terkaget-kaget saat pertama kali mengetahui ini. Seorang supervisor wanita, melemparkan sebuah majalah MLM yang dibawa anak buahnya saat jam kerja. Suaranya, jangan ditanya, dan apa yang diucapkan juga tak perlu dibahas. Wah, ingin rasanya saya mengambil majalah itu dan balik melemparkan padanya. Tapi, apa urusannya? Di situ, emosi sentimentil tak banyak gunanya.
Ledakan emosi, bukan notabene milik supervisor belaka. Segala macam ‘tekanan’ yang dialamatkan buyer ke tim dimana saya bekerja berakibat bagi ratusan orang yang lainnya. Satu kelalaian kecil, yang ketika itu dilakukan seorang teman saya amat berakibat fatal bagi sebuah proses. ‘Hanya’ karena salah memasang label dan salah melipat garment, teman saya menanggung sensasi tak menyenangkan. Eksport terhambat, orang-orang harus bekerja ekstra dari awal, malu pada buyer, kena marah dari bos dan sekian macam ‘penderitaan’ batin lainnya.
Seorang manager produksi yang kala itu seorang India, mengkalkulasikan kerugian yang diderita secara amat sangat terperinci. Dan hasilnya, fantastis sekali. Selain menambah stres kami , juga membuat kami terkejut karena dia menghitung apa yang dikeluarkan perusahaan dalam satu detik kami bekerja.
Para pekerja pabrik, dimanapun mereka berada, memiliki romantika yang tak jauh beda. Kalau di sebuah perusahaan pakaian jadi mayoritas adalah wanita, maka jangan tanya, kehadiran seorang laki-laki yang eyes catching, akan segera membuat mereka ‘rajin’ berdandan dan berebut perhatian, tentu bagi yang masih single. Sementara di sebuah pabrik furniture, dimana saya bekerja sekarang, kehadiran para pekerja wanita yang ‘bening’pun dianggap sebagai ‘suplemen’ bagi para lelaki yang mayoritas bekerja di situ.
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=12646
Tidak ada komentar:
Posting Komentar